Center for Entrepreneurship Development and Studies

Tren dan Proyeksi Bisnis Indonesia – Bangkit Indonesiaku!

Tren dan Proyeksi Bisnis Indonesia – Bangkit Indonesiaku!

1. Peningkatan kondisi bisnis terjadi pada seluruh sektor ekonomi kecuali Pertanian dan Konstruksi (penurunan), serta Industri (stagnan). Sektor Keuangan, Persewaan, & Jasa Perusahaan mengalami peningkatan paling tinggi.

2. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I/2008 dibandingkan triwulan IV/2007, yang diukur dari kenaikan PDB meningkat sebesar 2,1 persen (q-to-q).

3. Pertumbuhan ekonomi ini terjadi pada sektor pertanian; keuangan, real estat, dan jasa perusahaan; listrik,gas, dan air bersih; pengangkutan dan komunikasi; dan sektor jasa-jasa. Pertumbuhan tertinggi dihasilkan oleh sektor pertanian sebesar 18,0 persen

4. Ekspor hasil pertanian serta ekspor hasil industri periode Januari-Maret 2008 meningkat 41,70 persen dan 30,48 persen dibanding periode yang sama tahun 2007.

5. Secara kumulatif (Januari-Maret), jumlah wisman tahun 2008 mencapai 1,41 juta orang atau meningkat 15,68 persen dibanding jumlah wisman pada periode yang sama tahun 2007 sebanyak 1,22 juta orang. Sumber: BPS

Apakah anda bisa melihat peluang bisnis dibalik angka-angka ini? Bebaskan pikiran dan terus kreatif mencari peluang di sekitar anda. Krisis ekonomi akan selalu ada di sepanjang kehidupan manusia, timbul dan tenggelam. BBM boleh naik, daya beli konsumen boleh turun, tapi mindset bisnis harus jalan terus. Kapan dan dimana pun anda berada, akan selalu ada bibit-bibit bisnis yang bisa meledakkan penghasilan anda. PASTI!!

Jadikan momentum Kebangkitan Nasional 2008 sebagai titik awal proses perjalananan anda menuju sukses. Ambil langkah maju sekarang juga! JOIN FORCES! Bangkit Indonesiaku! Saatnya berbisnis mandiri…

sumber : milis profec

20 Mei 2008 Ditulis oleh cedsui | bisnis | | Belum Ada Tanggapan

Siapakah Buah Emas dalam Pohon Bisnis Anda?

Jika kita melihat akhir-akhir ini, terjadi kelangkaan akan gas LPG
ukuran 12 kg dan dijalankannya program insentif dan dis-insentif dari
PLN. Apa yang menyebabkan terjadinya kelangkaan dari LPG adalah
dinaikkannya harga LPG ukuran 50 kg yang selama ini diperuntukkan untuk
industri kecil dan menengah. Dengan semakin mahalnya harga LPG ukuran 50
kg, otomatis para pebisnis mengalihkan pemakaian mereka ke ukuran 12 kg
yang tidak mengalami kenaikan, sehingga terjadilah kelangkaan akan LPG
ukuran 12 kg ini.

Yang terjadi dengan PLN sama juga, mereka yang menggunakan listrik
banyak dikenakan dis-insentif, harus membayar lebih mahal dibandingkan
dengan mereka yang hanya menggunakan sedikit. Beruntung baik PLN maupun
LPG dikelola oleh negara dan merupakan bentuk barang yang tidak memiliki
persaingan. Jika kebijaksanaan atau peraturan seperti ini dijalankan
oleh perusahaan swasta yang memiliki pesaing, saya pastikan perusahaan
tersebut akan terkapar dengan cepat. Kenapa demikian? Karena mereka
melakukan tindakan yang merupakan kebalikan yang berlaku dalam dunia
bisnis. Orang bisnis (yang orientasinya profit) ingin supaya produknya
laku, sehingga pelanggan setia diberikan insentif supaya membeli lebih
banyak lagi. Tetapi kalau pemerintah (dimana orientasinya adalah
pengaturan), yang memakai banyak justru dikasih hambatan atau penalti,
supaya membatasi pemakaian.

Dalam dunia bisnis, pelanggan utama sudah seharusnya mendapat perlakuan
yang istimewa, karena merekalah penyumbang terbesar terhadap omzet dan
profit perusahaan. Inilah yang saya sebut Buah Emas dari pohon bisnis
anda. Mereka layak mendapatkan harga yang lebih murah, diskon yang lebih
besar, bonus tambahan dan sebagainya. Sedangkan pelanggan yang
kontribusinya kecil, tetap harus diperhatikan, tetapi tentunya perlakuan
ke mereka tidak se-istimewa pelanggan utama kita.

Pertanyaannya, apakah anda mengetahui siapa pelanggan utama anda?
Sudahkah anda meng – ABCDE – kan pelanggan anda? Bagaimana
mengklasifikasikannya?

Anda bisa mengklasifikan pelanggan anda dari segi omzet atau profit.
Dari semua pelanggan anda, datalah omzet atau profit yang anda dapatkan
dari mereka. Kemudian urutkanlah pelanggan anda dari yang
omzet/profitnya terbesar sampai dengan yang terkecil.

Semua pelanggan yang menyumbang s/d 80% dari omzet atau profit anda
dapat dikategorikan sebagai pelanggan kategori A.

Semua pelanggan yang menyumbang 15% selanjutnya dari omzet atau profit
anda dapat dikategorikan sebagai pelanggan kategori B.

Semua pelanggan yang menyumbang sisa 5% dari omzet atau profit anda
dapat dikategorikan sebagai pelanggan kategori C.

Semua pelanggan yang ada di database anda, tetapi belum menyumbangkan
omzet atau profit bagi anda, dapat dikategorikan sebagai pelanggan
kategori D.

Semua pelanggan yang ada di database anda, belum menyumbangkan omzet
atau profit, tetapi anda harus mengeluarkan uang untuk menjaga
relationship, mereka semua dapat dikategorikan sebagai pelanggan
kategori E.

Jika sudah memiliki datanya, sekarang tinggal membuat program yang
berbeda untuk masing-masing kategori pelanggan. Mereka yang masuk ke
kategori A, tentunya harus diperlakukan istimewa, karena merekalah
penyumbang 80% dari omzet atau profit anda. Merekalah yang harus anda
jaga, perhatikan, bina hubungan baik, dsb. Jika mereka sampai pergi,
maka omzet atau profit anda pastilah terganggu. Tetapi kalau yang pergi
adalah yang termasuk dalam kategori C,D atau E, maka tidak akan
mempengaruhi bisnis anda secara signifikan.

Jika anda tidak bisa mengklasifikasikan pelanggan anda, berarti anda
belum menjalankan database marketing. Anda perlu mendata terlebih dahulu
semua pelanggan anda, sebelum bisa melakukan teknik ABCDE ini.

7 Mei 2008 Ditulis oleh cedsui | marketing | | Belum Ada Tanggapan

Menjual Kompetensi ke Pemilik Modal

Sebuah Kiat:

Seringkali kita melihat sebuah peluang bagus untuk digarap atau
tertarik terhadap sebuah bisnis baru yang potensial namun kita merasa
tak punya kompetensi praktis di bidang tersebut. Misalnya kita ingin
masuk di bisnis kurir, fashion, properti, content provider, resto,
atau bisnis jasa tertentu, namun kita meraca tak punya latarbelakang
pengalaman yang cucup di bidang itu. Kalau kondisinya seperti itu, ada
salah satu kiat yang cukup efektif yang bisa menjadi solusi.
Yakni dengan merekrut orang yang sudah berpengalaman di bidang itu dan
kita bayar. Kita bisa angkat dia sebagai operational manager atau
malah general manager. Dengan menjadikan ia pegawai kita, sebenarnya
kita sudah “membeli pengetahuan dan pengalaman yang telah bertahun2
dia peroleh”. Kalau mau ingin lebih kuat lagi, pekerjakan dan beri
saham dia, misalnya 2% atau 3%, tergantung hitung-hitungan proyeksi
keuntungan Anda. Tentu saja kita harus sembari belajar dan memberikan
value-added dari apa yang kita tahu agar bisnis kita menjadi lebih
baik daripada sekedar ‘pengalaman’ orang yang kita bayar itu.

Sebenarnya cara inilah yang menjadi rahasia kenapa di Indonesia
kemudian muncul group-group besar atau konglomerasi besar yang punya
bisnis bermacam-macam. Sehebat2-nya konglomerat atau pengusaha besar
tak akan tahu detil semua bisnisnya yang digarap. Tapi ia punya para
tangan kanan atau orang kepercayaan di masing-masing bidang itu.
Biasanya, ketika akan masuk di sebuah industri baru, big boss
mengangkat seorang yang ahli dan pengalaman di bidang itu, kemudian
diangkat jadi CEO atau GM dan dikasih saham gratis 3-5%. Pemberian
saham ini juga menjadi cara agar mereka punya sense of belonging.
Di lain sisi, hal itu juga menjadi pesan bagi peminat wirausaha yang
punya kompetensi namun merasa tak punya modal uang untuk memulai
bisnis sendiri, bahwa kita juga bisa menjual kompetensi kita ke pihak
pemodal untuk segera memulai usaha dan kita akan mendapatkan saham,
sesuai kontribusi dan peran2 yang bakal kita berikan. Dan ini bukan
sebuah omong kosong, banyak sekali contoh2 perusahaan besar yang
dibangun dengan pola ini dimana ada orang ‘pinter’ yang punya
pengalaman dan kompetensi yang kemudian mengajak pemodal untuk masuk
di sebuah bisnis baru.

Anda bisa juga bisa melihat kiat seperti ini sukses diterapkan seorang
pengusaha lelang yang dulu ketika merintis usaha ia hanya menjual ide
saja ke sebuah konglomerat. Idenya itu plus kesiapan untuk memimpin
perusahaan baru dihargai 15% saham di sebuah perusahaan besar di
perusahaan pakan ternak. Orang ini sekarang menjadi pengusaha sukses
karena ditopang kepercayaan dirinya saat menjual ide ke pengusaha
besar itu.

7 Mei 2008 Ditulis oleh cedsui | tips bisnis | | Belum Ada Tanggapan