Center for Entrepreneurship Development and Studies

Membuka Usaha

Ada sebagian orang yang bilang, bahwa membuka usaha itu sulitnya bukan main. Anda harus mempersiapkan X,Y,Z, dll, dst, dsb.

Salah ? Tidak..itu BENAR..

Namun hal itu TIDAK HARUS dilakukan saat Anda hendak membuka usaha. Hal itu bisa dilakukan sambil berjalan.

Saat mau buka usaha, persiapkan sebaik2nya namun bukan berarti seruwet2nya. Kadang orang seringkali tertukar tentang hal ini.

Mau buka usaha ruwet melulu dan akhirnya malah jadi enggan buka. Padahal sebenarnya, hal itu bisa dilakukan sambil dibuka usahanya.

Why ?

Karena tentunya banyak hal yang kita belum siap itu akan diingatkan oleh usaha itu sendiri. Misal, saat Anda membuka Warung, mungkin Anda lupa membeli pisau, Anda bisa saja lupa karena terlalu sibuk, tetapi saat sudah buka Anda PASTI menyadarinya juga.

Itu hanyalah contoh kecil dari usaha kecil, masih banyak hal lainnya.

Yang pasti kalo mau buka usaha, carilah WHYnya dulu, setelah itu HOW bisa ditemukan sesudahnya.

“THINK BIG, DREAMS BIG, PREPARE FOR THE WORST, THEN ACTION, ACTION, ACTION, AND NEVER GIVE UP !!”

3 Juli 2008 Ditulis oleh cedsui | tips bisnis | | Belum Ada Tanggapan

Menjual Kompetensi ke Pemilik Modal

Sebuah Kiat:

Seringkali kita melihat sebuah peluang bagus untuk digarap atau
tertarik terhadap sebuah bisnis baru yang potensial namun kita merasa
tak punya kompetensi praktis di bidang tersebut. Misalnya kita ingin
masuk di bisnis kurir, fashion, properti, content provider, resto,
atau bisnis jasa tertentu, namun kita meraca tak punya latarbelakang
pengalaman yang cucup di bidang itu. Kalau kondisinya seperti itu, ada
salah satu kiat yang cukup efektif yang bisa menjadi solusi.
Yakni dengan merekrut orang yang sudah berpengalaman di bidang itu dan
kita bayar. Kita bisa angkat dia sebagai operational manager atau
malah general manager. Dengan menjadikan ia pegawai kita, sebenarnya
kita sudah “membeli pengetahuan dan pengalaman yang telah bertahun2
dia peroleh”. Kalau mau ingin lebih kuat lagi, pekerjakan dan beri
saham dia, misalnya 2% atau 3%, tergantung hitung-hitungan proyeksi
keuntungan Anda. Tentu saja kita harus sembari belajar dan memberikan
value-added dari apa yang kita tahu agar bisnis kita menjadi lebih
baik daripada sekedar ‘pengalaman’ orang yang kita bayar itu.

Sebenarnya cara inilah yang menjadi rahasia kenapa di Indonesia
kemudian muncul group-group besar atau konglomerasi besar yang punya
bisnis bermacam-macam. Sehebat2-nya konglomerat atau pengusaha besar
tak akan tahu detil semua bisnisnya yang digarap. Tapi ia punya para
tangan kanan atau orang kepercayaan di masing-masing bidang itu.
Biasanya, ketika akan masuk di sebuah industri baru, big boss
mengangkat seorang yang ahli dan pengalaman di bidang itu, kemudian
diangkat jadi CEO atau GM dan dikasih saham gratis 3-5%. Pemberian
saham ini juga menjadi cara agar mereka punya sense of belonging.
Di lain sisi, hal itu juga menjadi pesan bagi peminat wirausaha yang
punya kompetensi namun merasa tak punya modal uang untuk memulai
bisnis sendiri, bahwa kita juga bisa menjual kompetensi kita ke pihak
pemodal untuk segera memulai usaha dan kita akan mendapatkan saham,
sesuai kontribusi dan peran2 yang bakal kita berikan. Dan ini bukan
sebuah omong kosong, banyak sekali contoh2 perusahaan besar yang
dibangun dengan pola ini dimana ada orang ‘pinter’ yang punya
pengalaman dan kompetensi yang kemudian mengajak pemodal untuk masuk
di sebuah bisnis baru.

Anda bisa juga bisa melihat kiat seperti ini sukses diterapkan seorang
pengusaha lelang yang dulu ketika merintis usaha ia hanya menjual ide
saja ke sebuah konglomerat. Idenya itu plus kesiapan untuk memimpin
perusahaan baru dihargai 15% saham di sebuah perusahaan besar di
perusahaan pakan ternak. Orang ini sekarang menjadi pengusaha sukses
karena ditopang kepercayaan dirinya saat menjual ide ke pengusaha
besar itu.

7 Mei 2008 Ditulis oleh cedsui | tips bisnis | | Belum Ada Tanggapan

Lima Jurus Jitu Negosiasi Bisnis

1. Pisahkan pokok masalah yang dinegosiasikan dengan lawan. Jangan
sampai masalah pribadi menghambat proses negosiasi yang sedang
berjalan. Tak heran perusahaan-perusahaan besar biasanya mempunyai tim
negosiasi yang terdiri dari beberapa orang dengan keahlian
berlapis-lapis. Dengan begitu, tidak akan pernah terjadi konflik
pribadi dengan proses negosiasi.

2. Selalu mengacu pada tujuan utama negosiasi. Apa hasil akhir yang
kita inginkan dalam negosiasi ini? Bukan masalah menang atau kalah,
apalagi sampai menjatuhkan lawan. So, tetap berkepala dingin dan
jangan pernah terpancing dengan emosi atau ego mau menang sendiri.
Baca selebihnya »

1 Februari 2008 Ditulis oleh cedsui | tips bisnis | | & Komentar